Pernah denger kata TarKam? AnTar Kampung atau Tarikan Kambing. Sebuah istilah yang digunakan untuk menyebut turnamen sepak bola kecil-kecilan, turnamen antar desa atau turnamen yang hadiahnya kambing, walaupun ga selalu begitu.
Semasa kuliah dulu, beberapa kali ikut membela kampong saya dalam turnamen tarkam yang biasanya di selenggarakan tiap setiap memperingati HUT Kemerdekaan RI atau biasanya pas abis lebaran. Mengapa menurut saya tarkam adalah sebuah idealisme?
- Pemain asli kampung sama sekali ga di bayar, kecuali pemain “rekrutan” yang di bayar, biasanya paling tinggi 50 ribu sekali main.
- Resiko yang di dapat bisa sangat besar, kaki patah di hajar lawan yang main bola kaya main silat, terus kaki borokan karena jatuh di lapangan yang pas Agustus-Oktober lagi keras-kerasnya karena kemarau.
- Biaya yang dikeluarkan sekali main bisa mencapai tiga ratus ribuan, kalo nyampe final bisa main 3-5 kali, taruhlah biaya yang dikeluarkan nyampe final sejuta rupiah. Tapi hadiah yang di dapat? Kadang-kadang ngga nyampe segitu, bisa impas aja udah sukur, untung juga kalo tarkamnya ada sponsornya.
Apa yang didapat dari Tarkam? Ngga lain adalah semangat dan kebanggaan. Semangat untuk ikut berpartisipasi membela nama kampung dan bangga bila menang. Kurang lebih hanya itu. Kadang-kadang semangat untuk memperoleh kebanggaaan di lapangan itu harus berlanjut menjadi tawuran antar supporter, atau lebih tepatnya antar kampung. Wah, ngeri juga.
Namun di lihat dari sisi lain, hal itu membuktikan betapa cintanya masyarakat Indonesia terhadap olahraga yang bernama sepakbola. Dari sisi fanatisme dan semangat, mungkin Indonesia bisa disejajarkan dengan Brasil atau Inggris, meskipun tidak dalam hal prestasi.
Sepakbola seperti sudah menjadi bagian dari denyut jantung sebagian besar masyarakat Indonesia. Masih ingat protes yang dilayangkan masyarakat ketika Liga Inggris ngga bisa lagi di saksikan secara gratis?
Namun, idealisme yang ada di kalangan akar rumput, sayangnya tidak dimiliki oleh petinggi sepakbola Indonesia. Mereka kok saya lihat ngga punya niat buat majuin sepakbola nasional. Salah satu buktinya: Masa’ ketua umum adalah seorang narapidana? ga diganti-ganti lagi.
Selain itu, sepakbola level atas di negeri ini juga sering dijadikan kendaraan politik untuk mendapat dukungan rakyat, yang memang gila bola, pada saat pilkada. Hal tersebut dikarenakan klub klub top sepak bola tanah air, memang dikendalikan oleh Pemda(baca:dibiayai APBD), belum dikelola secara professional. Jadi sebuah klub bisa hidup jika mendapt dukungan dari elite politik, gimana ngga terjadi dependensi klub kepada pemimpin daerah?
Indonesia punya bakat untuk menjadi kekuatan besar sepakbola Asia, dan udah pernah terbukti di era 60-an sampai 80-an. Dan berharap saat itu segera terulang.
–ditulis setelah tiap hari menyaksikan tarkam selama libur lebaran di Wonogiri–
Posted by duwiaharyanto